Sejarah Perguruan Karate-Do Tako Indonesia
Senin, 13 Oktober 2014
0
komentar
Perguruan
Tako Indonesia pada mulanya bernama Seni Beladiri Perisai Diri yang dipelajari
dari Guru R.M. Dirjo Atmojo (Surabaya) dan selanjutnya digabungkan dengan
Crooked Jujitsu yang dipelajari dari Guru Ondo Tokugawa (Surabaya), maka
didirikanlah Perguruan Karate-Do Tako Indonesia pada tahun 1963 Oleh Drs.
Syahrun Isa, MIAUP. Dalam perjalanannya setelah melakukan hubungan dan
kerjasama dengan aliran Karate Shito-Ryu, Kei Shin Kan dan Shotokan,
terciptalah satu Seni Beladiri yang dinamakan AKSI TAKO.
Seni
Beladiri Tangan Kosong (TAKO) atau Perguruan Tako Indonesia, lengkapnya
Perguruan Karate-Do Tako Indonesia sampai dengan saat ini masih merupakan salah
satu Perguruan Karate-Do yang bernaung dibawah Federasi Olahraga Karate-Do
Indonesia (FORKI). Perguruan
Karate-Do Tako Indonesia didirikan di Tebing Tinggi – Sumatera Utara pada tanggal 24 Februari 1963.
Karate-Do Tako Indonesia didirikan di Tebing Tinggi – Sumatera Utara pada tanggal 24 Februari 1963.
Modal
pokok berdirinya perguruan ini adalah teknik bertahan dan menyerang dengan
Tangan Kosong ajaran Tuan Ondo Tokugawa, yang kemudian hari baru dikenal
sebagai Seni Karate dari kelompok Crooked Jujitsu. Disamping teknik ini sedikit
pengetahuan Silat yang didapat dari Bapak R.M. Dirjo Atmojo (Guru Besar
Perguruan Silat Perisai Diri/Pendiri Perguruan Silat Perisai Diri) juga ada
memberikan andilnya, beliau adalah sahabat Guru Syahrun Isa.
Sejak
awal berdinya perguruan ini sudah ada kecenderungan untuk menasionalisir jiwa
dari teknik bela diri asing. Maksud ini mendapat dorongan yang kuat dari Bapak
Kantor Tarigan Walikota Kotamadya Tebing Tinggi Deli waktu itu. Kemudian pada
akhir tahun 60-an perbendaharaan teknik Perguruan Karate-Do Tako Indonesia
bertambah dengan bergabunggnya seorang pemegang sabuk hitam penganut aliran
Shotokan dari Karate Modern murid dari Ken Koeshasi, DAN X Judo, DAN V Shotokan
pendiri Ken Koeshasi Dojo.
Sejak
awal tahun 70-an Perguruan Karate-Do Tako Indonesia mulai memfokuskan dirinya
pada Olahraga Karate-Do, dan dalam tahuntahun selanjutnya perbendaharaan
perguruan ini bertambah terus dengan adanya pengiriman siswasiswa perguruan keluar
negeri untuk mempelajari Karate-Do. Untuk hal ini Perguruan Karate-Do Tako
Indonesia berterima kasih atas partisipasi dari Sdr. Kwe Seng Poh (DAN IV Kei
Shin Kan) cq Sdr. Efeendy Daudsyah dan Sdr. Y. Ishikawa (DAN VI Shito-Ryu)
dalam penjajagan prestasi dibidang olahraga Karate-Do, Perguruan Tako Indonesia
berulang kali mengadakan pertandingan didalam dan luar negeri. Pada awal tahun
70-an dengan Budokan Karate dan SKA dan pada tahun 1975 Perguruan Karate-Do
Tako Indonesia mengikuti kejuaraan karate yang diikuti oleh beberapa negara di
Singapore. Dalam pertandingan ini Perguruan Karate-Do Tako Indonesia menduduki
kedudukan Runner-Up.
Pada
pertengahan tahun 1977, beberapa guru dari beberapa aliran yang ada di
Perguruan Karate-Do Tako Indonesia berkumpul dan bermufakat untuk mencari
bentuk teknik bela diri dan olahraga yang ideal bagi pengikut Perguruan
Karate-Do Tako Indonesia, dimana bentuk teknik bela diri dan olahraga ini
nantinya mempunyai tata cara yang disesuaikan dengan kepribadian Bangsa Indonesia
yang Pancasilais. Dan pada awal tahun 1979 tekad para guru ini dikukuhkan oleh
Pengurus Besar Perguruan Karate-Do Tako Indonesia.
Pengurus
Besar Perguruan Karate-Do Tako Indonesia yang diketuai Dr. Suhardiman, S.E
mengintruksikan Dewan Guru Perguruan Tako Indonesia untuk segera menyusun pola
dasar teknik yang selaras dengan idealisme Pancasila yang sedang dikembangkan
oleh Pengurus Besar di Perguruan Karate-Do Tako Indonesia. Dan pada tanggal 9
Agustus 1979, pola dasar teknik yang berkepribadian Bangsa Indonesia tetapi
masih jauh dari sempurna telah diperagakan untuk pertama kalinya di Kampus
Universitas Indonesia.
Baca Selengkapnya ....